Jumat, 23 Desember 2011

Kunci Sukses Memimpin Di Usia Muda


Pada dasarnya generation Y, atau generasi yang lahir di era tahun 1980an adalah generasi yang memiliki potensi yang jauh lebih besar dari generasi-generasi sebelumnya untuk menjadi pemimpin di usia muda. Hal ini disebabkan karena teknologi yang ada pada saat generasi ini lahir, sudah jauh lebih canggih, meliputi handphone, komputer, internet dan teknologi transportasi. Kondisi ini membuat generasi Y memiliki akses yang luar biasa luas dan cepat kepada informasi yang tak terbatas, bukan hanya di negaranya sendiri, tetapi seluruh dunia. Disamping itu, perjalanan antar kota, antar pulau dan antar negara menjadi semakin cepat dan mudah dengan semakin mudah dan murahnya alternatif yang tersedia. Hal ini juga membuat generasi ini bersifat lebih adventorous atau avonturir.

Kemudahan-kemudahan di atas, membuat generasi muda sekarang jauh lebih cerdas dari pada generasi sebelumnya. Dan karena di usia yang lebih dini sudah mengetahui jauh lebih banyak informasi, mereka melihat bahwa ada banyak profesi yang tadinya tidak dikenal, tidak dihargai atau tidak dapat menjadi alternatif mencari nafkah, kini menjadi pilihan yang karir yang baik, bahkan bisa memberikan kebebasan waktu dan finansial yang lebih baik daripada menjadi seorang karyawan biasa. Hal ini membuat generasi ini cukup berani untuk membuat keputusan besar mengenai karir dan cita-citanya di usia yang jauh lebih awal dari generasi sebelumnya. Mereka menjadi lebih spesialis, menguasai satu atau dua bidang dengan sangat baik, tetapi “secara tidak sengaja” membatasi pengetahuan mereka di bidang-bidang lainnya karena ketertarikan mereka terhadap satu atau dua bidang sudah diputuskan di usia yang lebih dini.

Disisi lain, kemudahan-kemudahan yang mereka alami, misalkan tinggal memencet delete untuk menghapus ketikan yang salah sepanjang satu alinea, sedangkan generasi sebelumnya harus mengulangi mengetik dari awal dengan mesin ketik jika melakukankesalahan sebesar itu. Lalu misalkan tinggal memencet tombol enter di sebuah search engine ketika mencari sebuah artikel, sementara generasi sebelumnya harus mencari di berbagai perpustakaan, mungkin harus melakukan korespondensi dengan beberapa pihak untuk mencari sebuah artikel. Nah kemudahan-kemudahan ini membawa generasi ini cenderung tidak teliti dalam sebuah proses pengerjaan (karena sekarang jauh lebih mudah), bahkan cenderung menggampangkan karena mereka sudah lahir di era control/alt/del/enter tadi.

Untuk menjadi seorang Pemimpin dalam usia muda, generasi ini secara natural sudah memiliki akses kepada informasi yang lebih cepat dan lebih baik, memiliki keberanian yang lebih tinggi dan kemauan untuk mencoba (karena resiko atas sebuah kesalahan seperti kesalahan mengetik di atas – menjadi lebih kecil). Akan tetapi, menjadi seorang Pemimpin, berarti ia akan juga memimpin sebuah proses pekerjaan. Dimana proses, tetaplah merupakan sebuah proses; dimana ada suatu urutan dalam melakukannya, sehingga menjadi sebuah hubungan sebab akibat yang logis jika tidak dikerjakan secara berurutan. Misalkan, jika kita memakai kaus kaki dan sepatu, maka urutan yang harus dilakukan untuk membuka kaus kaki kita adalah dengan terlebih dahulu membuka sepatu kita. Akan sangat sulit dilakukan jika kita memaksakan untuk membuka kaus kaki kita tanpa membuka sepatu kita terlebih dahulu. Ini adalah salah satu contoh urutan logis dalam sebuah pekerjaan sederhana, yaitu membuka kaus kaki. 

Kelalaian dari pengerjaan secara berurutan akan menciptakan masalah. Dalam sebuah perusahaan, kelalaian pengerjaan secara berurutan, dapat menciptakan bermacam-macam resiko kerugian. Dua resiko kerugian terbesar yang sangat dihindari perusahaan adalah kerugian akibat reputasi perusahaan yang jatuh dan kerugian finansial akibat kelalaian karyawan. Yang mengejutkan adalah bahwa seringkali, kerugian-kerugian tersebut terjadi akibat kelalaian dari hal-hal yang sepele. Lebih sedikit kasus ditemui bahwa karyawan atau pimpinan perusahaan memang dengan sengaja memiliki skenario untuk membuat kerugian pada perusahaan.
Nah untuk menjadi Pemimpin yang sukses di usia muda, generasi ini perlu untuk mempelajari hal-hal detil yang penting. Karena seperti dikatakan tadi, hal-hal detil inilah yang seringkali dilalaikan dan membawa kerugian. Seperti misalkan, tata cara membuat surat. Dalam era e-mail seperti sekarang ini, surat formal sudah hampir dilupakan. Akan tetapi sopan santun harus tetap dijaga. Kelalaian untuk menjaga sopan santun dalam melakukan korespondensi dengan e-mail, dapat menyinggung perasaan Pemilik perusahaan yang bersangkutan dan orang yang kepada siapa e-mail tersebut ditujukan – terutama jika orang tersebut berasal dari generasi sebelumnya. Tata cara dan sopan santun berkorensponden tetap dianggap mencerminkan kepribadian si penulis surat. Hal ini dapat menimbulkan potensi kehilangan kesempatan bisnis yang memiliki potensi income bagi perusahaan, dan reputasi dimana perusahaan ini dianggap tidak sopan. Padahal, bisa saja Pemimpin Muda ini sama sekali tidak bermaksud demikian.

Hal lain lagi, misalnya. Karena generasi muda ini cenderung adalah generasi yang mudah bergaul, mereka cenderung mudah akrab dengan banyak orang – termasuk Pemilik perusahaan. Karena keakraban ini, seringkali mereka mengajukan anggaran-anggaran dengan gaya yang santai, dimana si Pemilik cenderung juga mengiyakan permohonan anggaran tersebut secara lisan saja, karena kedekatan hubungan mereka. Pada gilirannya membayar tagihan, Pemilik perusahaan menjadi sangat terkejut dengan jumlah yang tertera dalam bon. Saat Pemilik menegur Pemimpin perusahaan, ia berkata bahwa ia sudah mengajukannya kepada Pemilik perusahaan. Memang ia tidak berbohong.

Tetapi prosedur pengajuan anggaran / rencana anggaran seharusnya dilakukan secara tertulis sehingga Pemilik perusahaan diberi kesempatan untuk meneliti dengan cermat apa saja yang akan dibeli, dan berapa biaya yang harus dikeluarkannya, lalu menyetujuinya dengan menandatangani rencana anggaran tersebut. Dengan demikian, Pemilik sepenuhnya sadar dan berkomitmen untuk membayarnya. Disisi lain, sebagai yang mengajukan anggaran Pemimpin Muda ini juga harus menandatangani komitmen kepada Pemilik perusahaan bahwa jika biaya ini disetujui, maka ia harus mencapai goal perusahaan yang telah dibebankan kepadanya. Kelalaian Pemimpin Muda dalam hal-hala detil semacam ini seringkali membahayakan karirnya dan reputasinya sebagai seorang Pemimpin. Padahal sekali lagi, kemungkinan besar, Pemimpin Muda ini tidak bermaksud demikian.

Nah, di untuk menjadi seorang Pemimpin Muda yang sukses, ia harus mau belajar lebih banyak pada detil proses pekerjaan. Seringkali, dibutuhkan jam terbang yang tinggi untuk dapat menguasai proses secara ahli. Maka untuk menjadi Pemimpin dalam usia muda, satu-satunya cara adalah ketekunan, perhatian pada detil – sambil tetap memegang orientasinya pada goal perusahaan, dan kemauan untuk belajar dan kemampuan untuk belajar dengan cepat. Semakin baik seseorang merekam apa yang dilihat dan dipelajarinya dari atasannya, semakin cepat ia menguasai keahlian tersebut. Hal ini bisa memotong kebutuhan akan jam terbang yang tinggi untuk mampu menguasai keseluruhan proses.

Hal-hal di atas adalah kunci sukses menjadi seorang Pemimpin dalam usia muda secara teknis. Hal lain yang juga sangat penting adalah bagaimana seorang dalam usia muda mampu memimpin orang-orang yang lebih tua darinya. Karena Pemimpin yang sukses, bukan cuma menguasai secara teknis, tetapi juga menguasai hati anak buahnya atau karyawannya, dan mampu membawa mereka ke arah kinerja yang optimal bagi perusahaan.

oleh Dimas Aditya

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites